A. PENDAHULUAN
Biasanya anak-anak sangat senang bermain dengan mainannya. Mereka sangat menikmati waktu bermain sehingga tidak jarang mereka lupa makan, lupa belajar bahkan tidak mau melakukan aktivitas lainnya jika sedang bermain. Orangtua pun harus tarik urat dahulu jika menyuruh anaknya berhenti bermain dan mau mengerjakan pekerjaan rumah (PR) atau belajar. Hal ini seringkali menyebabkan orangtua menganggap bahwa anaknya malas belajar dan maunya cuma bermain saja.
Benarkah anak-anak kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain daripada belajar? Jika mau melihat secara lebih cermat dan memperbandingkannya dengan anak-anak pada masa sebelumnya (era 1970-1980an), sebenarnya justru terlihat kalau anak-anak masa sekarang lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar daripada bermain jika dibandingkan dengan anak-anak pada masa sebelumnya. Beberapa kritikan dari para ahli pendidikan tentang kurangnya waktu bagi anak untuk bersosialisasi dan mengembangkan hobby atau bakatnya (termasuk bermain) karena sebagian besar waktu terpakai untuk kegiatan-kegiatan belajar demi mengejar prestasi akademik di sekolah sudah sangat sering kita dengar. Sekolah-sekolah untuk anak-anak bahkan ada yang sudah dimulai dari anak umur 1,5 tahun (walaupun sekolah usia ini tentunya belum mulai belajar). Banyak TK yang menekankan kurikulumnya untuk mengajar anak membaca, menulis dan berhitung, bukan lagi sekedar bermain-main. Anak-anak SD bersekolah dengan waktu sekolah yang lebih panjang. Pulang sekolah menggambar, balet, piano, komputer dan lain-lain. Selain itu sekolah dan les, anak-anak juga masih perlu waktu untuk mengerjakan PR, mandi, makan dan istirahat (tidur). Jika melihat kenyataan ini jadi kapan dong waktu anak-anak untuk bermain? Lalu sebenarnya, apakah anak-anak memang malas belajar atau mereka memang tidak cukup waktu untuk bermain?
Orang tua sekarang ini seringkali sangat ambisius terhadap anak-anaknya, mereka ingin anaknya sepintar mungkin, dan diwujudkan dengan mengikutkan anak pada berbagai macam les untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan yang telah diperoleh anak di sekolahnya. Hal tersebut memang tidak salah, namun kebutuhan anak untuk bermain hendaknya jangan diabaikan karena bermain adalah hal yang penting bagi perkembangan fisik dan mental anak.
(bersambung)
Monday, August 11, 2008
Sunday, August 10, 2008
Membangun Kecerdasan
PENDAHULUAN
Islam memandang suatu hal yang positif terhadap fungsi akal dan ilmu pengetahuan (sains), serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Keduanya dipandang sebagai karunia Allah SWT kepada manusia dan merupakan karakteristik fitrah insani. Sebagai upaya untuk memahami sunnatullah, dan sunnatullah itu pada hakikatnya merupakan ayat-ayat Allah seperti halnya al-qur'an. Dengan demikian al-qur'an menyebut adanya sinyal terhadap potensi kecerdasan manuasia. Kemampuan untuk berfikir dan memahami adalah dengan memberdayakan qolbu. Dalam qolbu itu terdapat akal untuk berfikir dan hati untuk memahami. Kata qolbu, juga membawa makna kesatuan antara kegiatan sains dan kegiatan ruhani, yang artinya ketidakterpisahan antara ilmu dan agama.
Di dalam al-qur'an Tuhan mengaanjurkan kepada manusian untuk memfungsikan akal dalam menelaah segala sesuatu. Misalnya yaddabbaru, yatadabbaru, ta'qilun, dan tafakkur, merupakan anjuran untuk mempelajari, mendalami, merenungkan, dan mengambil kesimpulan dalam memahami al-qur'an (agama), alam semesta, dan diri manusia sendiri yang kesemuanya itu bertujuan untuk lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Di lain pihak terdapat ayat-ayat yang mencela orang-orang yang tidak mau menggunakan akal serta tidak memikirkan dan menyimak berbagai kejadian yang mereka alami. Sehubungan dengan anjuran untuk memfungsikan akal-fikiran, Islampun memberi peluang yang seluas-luasnya untuk menggunakan akal yang dibimbing dan dibatasi dengan akidah dan syari'ah, serta kekuatan pada ketentuan-ketentuan Ilahi yang tersurat dalam al-qur'an dan al-hadits.
Dari uraian di atas, terlihat bahwa akal sebagai sarana utama untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (sains), memiliki dukungan yang kuat dari al-qur'an.[1] Bahkan dengan akal tersebut para ilmuwan, pengajar, pelajar, dan kegiatan belajar mengajar mendapat tempat yang terhormat dalam Islam serta merupakan peluang besar untuk meraih pahala dan rahmat Ilahi. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT sebagai berikut:
يَرْ فَعِ اللهُ الَّذِ يْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَا لَّذِ يْنَ أُوْتُوا الْعِلْمِ دَرَجَاتِ
Artinya:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". (Q.S. Al-Mujadalah: 11)
Bahkan kata ilmu dalam al-qur'an yang dicari kebenarannya dengan akal disebutkan sebanyak 854 kali dengan berbagai bentuk, yang menunjukkan arti pengetahuan (ontologi), proses memperoleh dan objek pengetahuan (epistemologi)dan kegunaan pengetahuan(aksiologi).[2]
[1] Hanna Djumhara B., Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju Psikologi Islam, (Yogyakarta: Insan Kamil, 2005), hal. 17.
[2] Imas Rosyanti, Esensi Al-Qur'an: untuk IAIN, STAIN, PTAIS, (Bandung: Pustaka Setia, 2002), hal. 10.
(bersambung)
Islam memandang suatu hal yang positif terhadap fungsi akal dan ilmu pengetahuan (sains), serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Keduanya dipandang sebagai karunia Allah SWT kepada manusia dan merupakan karakteristik fitrah insani. Sebagai upaya untuk memahami sunnatullah, dan sunnatullah itu pada hakikatnya merupakan ayat-ayat Allah seperti halnya al-qur'an. Dengan demikian al-qur'an menyebut adanya sinyal terhadap potensi kecerdasan manuasia. Kemampuan untuk berfikir dan memahami adalah dengan memberdayakan qolbu. Dalam qolbu itu terdapat akal untuk berfikir dan hati untuk memahami. Kata qolbu, juga membawa makna kesatuan antara kegiatan sains dan kegiatan ruhani, yang artinya ketidakterpisahan antara ilmu dan agama.
Di dalam al-qur'an Tuhan mengaanjurkan kepada manusian untuk memfungsikan akal dalam menelaah segala sesuatu. Misalnya yaddabbaru, yatadabbaru, ta'qilun, dan tafakkur, merupakan anjuran untuk mempelajari, mendalami, merenungkan, dan mengambil kesimpulan dalam memahami al-qur'an (agama), alam semesta, dan diri manusia sendiri yang kesemuanya itu bertujuan untuk lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Di lain pihak terdapat ayat-ayat yang mencela orang-orang yang tidak mau menggunakan akal serta tidak memikirkan dan menyimak berbagai kejadian yang mereka alami. Sehubungan dengan anjuran untuk memfungsikan akal-fikiran, Islampun memberi peluang yang seluas-luasnya untuk menggunakan akal yang dibimbing dan dibatasi dengan akidah dan syari'ah, serta kekuatan pada ketentuan-ketentuan Ilahi yang tersurat dalam al-qur'an dan al-hadits.
Dari uraian di atas, terlihat bahwa akal sebagai sarana utama untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (sains), memiliki dukungan yang kuat dari al-qur'an.[1] Bahkan dengan akal tersebut para ilmuwan, pengajar, pelajar, dan kegiatan belajar mengajar mendapat tempat yang terhormat dalam Islam serta merupakan peluang besar untuk meraih pahala dan rahmat Ilahi. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT sebagai berikut:
يَرْ فَعِ اللهُ الَّذِ يْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَا لَّذِ يْنَ أُوْتُوا الْعِلْمِ دَرَجَاتِ
Artinya:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". (Q.S. Al-Mujadalah: 11)
Bahkan kata ilmu dalam al-qur'an yang dicari kebenarannya dengan akal disebutkan sebanyak 854 kali dengan berbagai bentuk, yang menunjukkan arti pengetahuan (ontologi), proses memperoleh dan objek pengetahuan (epistemologi)dan kegunaan pengetahuan(aksiologi).[2]
[1] Hanna Djumhara B., Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju Psikologi Islam, (Yogyakarta: Insan Kamil, 2005), hal. 17.
[2] Imas Rosyanti, Esensi Al-Qur'an: untuk IAIN, STAIN, PTAIS, (Bandung: Pustaka Setia, 2002), hal. 10.
(bersambung)
Analogi Kehidupan
SUSAHNYA CARI KERJA
Kusisihkan Keuntungan Bisnisku
Seribu, Dua Ribu, Tiga Ribu, Empat Ribu
Satu Kali Dua Puluh Empat Jam
Sepuluh Ribu Rata-Rata Kudapat
Cukup Sudah Empat Ribu
Ku Langkahkan Kaki Gontai
Menggadaikan Empat Ribu
Koran Jawa Pos
Dengan Penuh Harapan
Menatap Masa Depan Gemilang
Kubuka Lembar demi Lembar
Menyisir Lowongan Pekerjaan
Ada Ternyata Ada
Di Tulungagung Dealer Honda
Ijasah Sudah Memenuhi Persyaratan
Ku Melamarnya Tunggu Hasilnya
Subscribe to:
Posts (Atom)
