Sunday, August 10, 2008

Membangun Kecerdasan

PENDAHULUAN
Islam memandang suatu hal yang positif terhadap fungsi akal dan ilmu pengetahuan (sains), serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Keduanya dipandang sebagai karunia Allah SWT kepada manusia dan merupakan karakteristik fitrah insani. Sebagai upaya untuk memahami sunnatullah, dan sunnatullah itu pada hakikatnya merupakan ayat-ayat Allah seperti halnya al-qur'an. Dengan demikian al-qur'an menyebut adanya sinyal terhadap potensi kecerdasan manuasia. Kemampuan untuk berfikir dan memahami adalah dengan memberdayakan qolbu. Dalam qolbu itu terdapat akal untuk berfikir dan hati untuk memahami. Kata qolbu, juga membawa makna kesatuan antara kegiatan sains dan kegiatan ruhani, yang artinya ketidakterpisahan antara ilmu dan agama.
Di dalam al-qur'an Tuhan mengaanjurkan kepada manusian untuk memfungsikan akal dalam menelaah segala sesuatu. Misalnya yaddabbaru, yatadabbaru, ta'qilun, dan tafakkur, merupakan anjuran untuk mempelajari, mendalami, merenungkan, dan mengambil kesimpulan dalam memahami al-qur'an (agama), alam semesta, dan diri manusia sendiri yang kesemuanya itu bertujuan untuk lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Di lain pihak terdapat ayat-ayat yang mencela orang-orang yang tidak mau menggunakan akal serta tidak memikirkan dan menyimak berbagai kejadian yang mereka alami. Sehubungan dengan anjuran untuk memfungsikan akal-fikiran, Islampun memberi peluang yang seluas-luasnya untuk menggunakan akal yang dibimbing dan dibatasi dengan akidah dan syari'ah, serta kekuatan pada ketentuan-ketentuan Ilahi yang tersurat dalam al-qur'an dan al-hadits.
Dari uraian di atas, terlihat bahwa akal sebagai sarana utama untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (sains), memiliki dukungan yang kuat dari al-qur'an.[1] Bahkan dengan akal tersebut para ilmuwan, pengajar, pelajar, dan kegiatan belajar mengajar mendapat tempat yang terhormat dalam Islam serta merupakan peluang besar untuk meraih pahala dan rahmat Ilahi. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT sebagai berikut:
يَرْ فَعِ اللهُ الَّذِ يْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَا لَّذِ يْنَ أُوْتُوا الْعِلْمِ دَرَجَاتِ
Artinya:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". (Q.S. Al-Mujadalah: 11)
Bahkan kata ilmu dalam al-qur'an yang dicari kebenarannya dengan akal disebutkan sebanyak 854 kali dengan berbagai bentuk, yang menunjukkan arti pengetahuan (ontologi), proses memperoleh dan objek pengetahuan (epistemologi)dan kegunaan pengetahuan(aksiologi).[2]
[1] Hanna Djumhara B., Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju Psikologi Islam, (Yogyakarta: Insan Kamil, 2005), hal. 17.
[2] Imas Rosyanti, Esensi Al-Qur'an: untuk IAIN, STAIN, PTAIS, (Bandung: Pustaka Setia, 2002), hal. 10.
(bersambung)

No comments: